I Like Your Smile

I Like Your Smile

Kamis, 31 Oktober 2013



 WAKTU AKU SAMA MIKA

Pengarang: Indi
Penerbit: Homerian Publishing
Tahun Terbit: 2013
Tebal Halaman: 145
Bagaimana cinta antara pria penderita HIV dan gadis penderita Skoliosis? Tidak mudah. Itu adalah harga cinta dan kedewasaan Indi. Meskipun akhirnya Mika pergi dan Indi mendapatkan Ray sebagai pengganti Mika. Selalu ada tempat di hati Indi untuk Mika
Indi adalah seorang gadis penderita Skoliosis. Suatu istilah untuk pertumbuhan tulang belakang yang tidak sempurna. Kelainan ini membuat Indie tumbuh menjadi gadis pasif, tidak percaya diri, dan merasa tidak mempunyai kelebihan apa-apa.
Suatu ketika, dengan terpaksa Indi mengikuti orang tuanya. Mereka berkunjung ke rumah Paman Indi di Bandung. Di sana dia menjumpai seorang pemuda aneh. Kurus, badan bertato, berlesung pipit satu, dan selalu tersenyum padanya.
Pembawaan pemuda itu yang riang membuat Indi semakin terbuka terhadapnya. Dan tibalah saat perkenalan itu. Pria itu menyebut namanya: Mika. Tak ada pertanyaan lanjutan. Tak ada basa-basi. Hanya satu hal yang menarik perhatian Indie saat itu. Sandal jepit Mika warnanya beda. Satu hijau satu lagi berwarna kuning.
Mika benar-benar bagai malaikat bagi Indi. Dengan Mika, Indi tak perlu berpura-pura. Tak perlu malu. Saking terpesonanya Indi dengan Mika, dia langsung bilang Ya ketika Mika meminta Indi menjadi pacarnya. Di hari pertama mereka pacaran itu, Mika bilang kalau dia menderita HIV. Indi tak berkomentar apa-apa. Juga tidak menanyakan lebih detil apa itu HIV. Mika sendiri juga tidak pernah menanyakan kenapa dia memakai penyangga punggung. Kenapa dia harus punya hak bertanya.
Mika mengubah Indi perlahan-lahan. Dari gadis pemalu menjadi gadis yang berani. Bahkan kakak kelasnya yang melarang Indie untuk menggunakan toliet karena dia takut tertular HIV ia lawan. Bahkan omongan Gerry yang menjelek-jelekan Mika ia bantah.
Malam itu. Indi sedang menemani Mika menonton Home Alone 2. Indi bahagia melihat Mika bernyanyi kecil sambil sesekali tertawa melihat tokoh di film ketika membuat kekacauan. Tetapi semakin lama suara Mika semakin hilang. Indie merasa aneh. Dia lantas menatap Mika. Barulah ia sadar, Mika sudah pergi untuk selama-lamanya, tepat tiga puluh menit sebelum film berakhir. Indi melanjutkan melihat film dengan mata kosong sampai film berakhir. Mama Mika sendiri yang memergoki kematian Mika, sementara Indi hanya diam tanpa meneteskan air mata di pojok ruangan.
Novel (novelet? Kumpulan Cerpen?) dengan kemasan unik ini semula tidak menarik perhatian saya sewaktu di toko buku. Tipisnya halaman, desain seperti buku notes model loose leafs, serta penyajian halaman seperti buku tulis dengan bentuk font semacam huruf latin membuat saya tak meliriknya. Tetapi setelah melihat film-nya (itu saat saya melihat film Indonesia pertama kali dalam kurun waktu dua puluhan tahun), saya terpukau.
Kedalaman karakter Indi mengenai bagaimana merananya ia ditinggal Mika. Cara dia menyusun kata-kata, sangat jelas menggambarkan keadaan hati yang realistis. Saya tidak tahu, ini kisah nyata atau tidak, tetapi saya merasa setiap kata-katanya sangat bernyawa.
Plot cerita tidak jelas. Mungkin karena tulisan ini pada dasarnya adalah diari seseorang, bukan sebuah novel. Maka adalah hal yang logis jika tiap halaman diarinya ditulis sesuai dengan keadaan jiwa sang penulis. Justru sangat aneh jika plot dan alur sangat teratur.
Jika memang benar ini adalah cerita penulisnya, saya harap mudah-mudahan suatu ketika Indi bisa berjalan imbang tanpa bantuan penyangga tubuh lagi. Saya salut sama kamu Indi. Be struggle! The luckiest man has you! Even Mika.
*menyentuh kalo baca novel ini :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar